Hilirasiasi Nyata dalam Sinergi Riset Mahasiswa & Alumni Doktoral COMNETS-SPCIES : Dari Kampus Hijau Berkesinambungan dan Berdampak ke Koridor Smart Hospital

COMNETS Geek
19 Juni 2026
Hilirasiasi Nyata dalam Sinergi Riset Mahasiswa & Alumni Doktoral COMNETS-SPCIES : Dari Kampus Hijau Berkesinambungan dan Berdampak ke Koridor Smart Hospital

Suasana di koridor Graha Eksekutif Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang hari ini menjadi saksi sejarah baru bagi digitalisasi medis di Sumatra Selatan. Sebuah inovasi teknologi kesehatan masa depan—Smart Health—hasil riset mendalam selama dua tahun oleh dosen Fakultas Ilmu Komputer, mahasiswa Sistem Komputer, dan Alumni Doktoral di Universitas Sriwijaya (UNSRI) resmi diuji coba dan dipasang secara langsung di Graha Eksekutif. 
Momentum krusial ini disaksikan dan diuji langsung oleh Direktur Layanan Operasional (DirLO) RSMH, dr. Rahmadian, MKM. Beliau mencoba keandalan alat pintar tersebut sekaligus memastikan seluruh data medis yang terekam langsung terkoneksi ke Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) menggunakan metode Single Sign-On (SSO). Dengan Sinergi DIRLO bersama Fakultas Ilmu Komputer UNSRI sudah berlangsung sejak dua tahun ini dalam kegiatan IMWORK – COMNETS bersama para Industri dan pemerintahan di Sumatera Selatan.

Perangkat Smart Health besutan peneliti UNSRI ini bukan sekadar alat pemantau biasa. Mengandalkan kecerdasan buatan (AI) dan IoT, alat ini mampu mengukur enam parameter kesehatan esensial sekaligus secara real-time: Saturasi Oksigen, Denyut Jantung, Tekanan Darah, Suhu Tubuh, Tinggi Badan dan Berat Badan. Semua data sensorik tersebut diproses oleh algoritma AI untuk memberikan gambaran klinis yang instan dan akurat mengenai kondisi awal pasien begitu mereka memasuki area Graha Eksekutif untuk tahap selanjutnyam, begitu yang disampaikan kepada para staff Rumah Sakit.

Salah satu poin paling krusial dari demonstrasi hari ini adalah aspek interoperabilitas data. Saat DirLO melakukan uji coba, data dari keenam parameter kesehatan tersebut langsung terkirim ke platform SIMRS RSMH via SSO. Dengan interkoneksi ini, membuat dokter dan perawat tidak perlu lagi memasukkan data pasien secara manual dari kertas ke komputer. Ditambahkan oleh tim Leader Smart Health, Mahasisw Doktoral Adi Hermansyah dikatakan dengan fitur ini maka : (1) Keamanan Terjamin: Akses data terpusat dan terenkripsi, (2) Zero Human Error: Menghilangkan risiko salah ketik angka tensi atau saturasi dan (3) Kecepatan Layanan: Begitu pasien selesai diperiksa oleh perangkat Smart Health, dokter di ruang konsultasi sudah bisa membaca hasilnya di layar monitor mereka saat itu juga.
Sehari Sebelumnya yang disampaikan oleh Kasubdit Alumni Prof. Ir. Deris Stiawan. PhD yang juga sebagai bridging dari kegiatan ini mengatakan bahwa tim SIMRS, Instalasi Pemeliharaan Sarana Rumah Sakit dan tim kerja BMN RSMH telah mengunjugi Lab COMNETS-SPCIES  untuk mengandeng dan memperkuat langkah Transformasi Digital disana.  Dalam kesempatan tersebut, tim COMNETS-SPCIES memaparkan sejumlah hasil riset dan pengembangan teknologi yang relevan dengan kebutuhan rumah sakit modern berbasis digital. Salah satu inovasi yang menjadi perhatian adalah sistem navigasi cerdas untuk robot pengantar obat berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan interkoneksi peralatan Intensive Care Unit (ICU) seperti monitor pasien, ventilator, dan alat pemantauan tanda vital lainnya dengan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS). Hadir juga di Fakultas Ilmu Komputer Kepala Departmen Sistem Komputer Dr. Sutarno, Kepala Departmen Informatika Dr. Hadi Purnawan Satria, Sekretasi Departmen Huda Ubaya, Beberapa Dosen lainnya menemani delegasi dari RSMH.

Dalam kesempatan tersebut, tim COMNETS-SPCIES memaparkan sejumlah hasil riset dan pengembangan teknologi yang relevan dengan kebutuhan rumah sakit modern berbasis digital. Salah satu inovasi yang menjadi perhatian adalah sistem navigasi cerdas untuk robot pengantar obat berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Teknologi ini dirancang untuk memungkinkan robot bergerak secara mandiri di lingkungan rumah sakit dengan memanfaatkan sensor, pemetaan ruangan, dan algoritma AI untuk menentukan rute yang aman dan efisien.  Melalui sistem tersebut, robot dapat membantu proses distribusi obat dari instalasi farmasi menuju ruang perawatan pasien, sehingga mengurangi beban kerja tenaga kesehatan sekaligus meningkatkan efisiensi operasional rumah sakit. Selain itu, penggunaan robot juga dinilai mampu meminimalkan risiko kesalahan distribusi dan mendukung layanan yang lebih cepat kepada pasien. Kekuatan robot ini yang dinamkaan MEDRO (Medicine Delivery Robotics) seperti yang dijelaskan oleh tim leadernya Dr. Ahmad Zarkasi mengatakan ada tiga pilar utama : (1) Deteksi Halangan, (2) Kecerdasan Navigasi dan (3) System Hidrolik.

Selain demonstrasi robot pengantar obat, tim COMNETS-SPCIES juga mempresentasikan konsep interkoneksi peralatan Intensive Care Unit (ICU) dengan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) yang disampaikan oleh Tim Leader Dr. Kemahyanto Exsaudi dan Rahmat Fadli Isnanto. M.Sc. Mereka menjelaskan bagaimana solusi ini memungkinkan berbagai perangkat medis di ruang ICU, seperti monitor pasien, ventilator, dan alat pemantauan tanda vital lainnya, terhubung secara langsung ke sistem informasi rumah sakit. Dengan integrasi tersebut, data pasien dapat dikirim dan direkam secara otomatis ke SIMRS secara real-time. Topik ini menjadi menarik, khususnya perangkat Mindray BeneView, agar data klinis yang dihasilkan dapat ditransmisikan secara otomatis ke sistem informasi rumah sakit dan tidak lagi bergantung pada pencatatan manual oleh tenaga kesehatan.

Tahap awal pengembangan dilakukan melalui proses identifikasi dan pemetaan antarmuka komunikasi (interface mapping) pada perangkat monitor pasien. Proses ini bertujuan untuk memahami mekanisme pertukaran data yang digunakan oleh perangkat medis, termasuk konfigurasi port komunikasi, format data, serta protokol jaringan yang tersedia. Setelah proses identifikasi selesai, tim melakukan implementasi UDP Listener untuk menangkap data yang dikirimkan secara real-time oleh monitor pasien. Melalui mekanisme ini, berbagai parameter vital pasien seperti detak jantung (heart rate), saturasi oksigen (SpO2), tekanan darah, laju pernapasan, dan indikator klinis lainnya dapat diterima secara langsung oleh sistem akuisisi data yang dikembangkan. Untuk menjembatani kebutuhan integrasi dengan aplikasi modern berbasis web dan SIMRS, tim COMNETS-SPCIES kemudian mengembangkan mekanisme konversi data HL7 ke format JSON. Pendekatan ini memungkinkan data klinis dari monitor pasien ditransformasikan menjadi format yang ringan, fleksibel, dan mudah diintegrasikan melalui Application Programming Interface (API) ke SIMRS.

Dijelaskan juga, bawah kolaborasi ini melibatkan tiga elemen penting di UNSRI: (1) Alumni Doktoral: Berperan sebagai arsitek sistem dan konseptor arsitektus dengan memastikan teknologi yang dibangun memenuhi standar yang ketat. (2) Dosen Pengarah: Menjadi motor penggerak riset (R&D) sekaligus menjembatani regulasi antara dunia kampus terutam Lab Pendukung dan kebutuhan riil pihak rumah sakit. Dan (3) Mahasiswa: Menjadi kreator di balik layar yang merakit perangkat keras (hardware) dan memprogram perangkat lunak (software).

Kehadiran alat ini sebagai hilirisasi nyata dari hasil penelitian yang menegaskan bahwa pihak RSMH sangat serius dalam mengadopsi teknologi lokal. Kolaborasi UNSRI dan RSMH ini membuktikan bahwa "Wong Kito" mampu memimpin gerak maju smart hospital di Sumatera Selatan.